Berapa Uang 6,7 Triliun itu

Di negeriku ada pencuri
Pasang badan bela Century
Uang amblas di bawa Lari
Nasabahnya Mati Berdiri

Di negeriku ada pejabat
Paling gak kuat sama suap
Uang rakyat pasti disunat
Jadi budak si cukong kakap

Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu karya Ust. Umar Abdullah. Sebuah lagu yang mencoba menggugat fakta kerusakan yang terus terjadi di belahan bumi terindah bernama Indonesia. Dari penggalan lirik itu, tentunya pikiran kita telah tertuju pada adegan reality show paling spektakuler tahun ini. Reality show yang melibatkan banyak orang-orang penting di negeri ini.

Namun, pada kesempatan ini saya tidak berminat membahas tentang apa dan bagaimana skandal bank Century bisa terjadi. Saya lebih tertarik membahas betapa banyak uang yang digelontorkan untuk menyelamatkan Bank Century yang katanya dilakukan demi menjaga kestabilan dunia perbankan Indonesia. Walaupun saya sendiri meragukan argumentasi itu. Apalagi tingkat popularitas Bank Century di kalanagan masyarakat tidak terlalu terkenal. Di daerah saya saja, nama Bank Century tidak begitu populer di kalangan masyarakat. Entahlah, setidaknya bagi kalangan ibu-ibu di sekitar rumah saya nama Bank Century baru pertama kali mereka dengar di televisi sekarang-sekarang ini saja. Mereka lebih mengenal nama Bank Encip si tukang sayur daripada Bank Century.

“duit sebanyak itu buat apa ya maksudnya ?” tanya ibu saya

“katanya sih buat menyelamatkan dunia perbankan Indonesia, karena kalo Bank Century tidak dibantu akan ada 15 Bank lain yang ikut gulung tikar, nah hal ini dilihat sebagai ancaman bagi dunia perbankan Indonesia, makanya diputuskanlah untuk membantu Bank ini dengan memberikan bantuan dana (istilahnya Bail Out) sebesar 6,7 Triliun, padahal kalo kita mau jujur sebenarnya bank ini gak begitu terkenal di kalangan masyarakat, masih lebih terkenal Bank Encip ya mah…?” jawab saya secara sederhana.

“Kira-kira kalo itu duit dimasukin ke gudang, ruangan ini cukup gak ya ?” kali ini Ayah saya yang ikut menimpali, sambil matanya melihat ke sekeliling ruangan di rumah kami.

“hahahaha… yang jelas kalo duit 6,7 triliun dipake buat beli Cendol, Jakarta bisa banjir Cendol.” Jawab saya sekenanya.

Justru dari pertanyaan ayah saya itulah, kemudian saya membayangkan berapa banyak sesungguhnya uang 6,7 triliun apabila divisualisasikan. Selama beberapa hari saya tidak bisa membayangkan berapa banyak pastinya uang dengan nominal sebesar itu.

Sampai akhirnya kemarin siang, saya berhasil menemukan gambaran visual tentang berapa banyak uang 6,7 triliun itu sesungguhnya. Kejadian itu berlangsung di mesjid kampus UIKA (Mesjid Al Hijri II). Di temani 2 orang kawan sebagai assisten, saya mulai berkonsentrasi melakukan penghitungan agar gambaran visualisasi yang saya lakukan mendekati tepat.

Berikut ini adalah cara penghitungan yang saya lakukan :

Pertama saya mengeluarkan sehelai kertas HVS berukuran Folio (8,5 x 13 in) atau sekitar 21,59 x 33,03 cm. Kemudian saya keluarkan selembar uang pecahan Rp. 100.000. Saya menyusun uang tadi secara teratur, hingga dalam 1 helai kertas tersebut mampu menampung 6 lembar uang pecahan Rp. 100.000. Kemudian saya berpikir, kalo 1 helai mampu menampung 6 lembar uang pecahan Rp. 100.000 (Rp.600.000) maka dalam satu rim kertas, uang yang mampu ditampung adalah Rp. 300.000.000 “Tiga Ratus Juta Rupiah” (Rp.600.000 x 500 lembar kertas HVS ukuran Folio). Sudah Jelas ? Lanjut ke tahap berikutnya.

Setelah itu saya bertanya, kalo 1 rim itu menampung uang sebesar Rp. 300.000.000, butuh berapa rim untuk menampung uang sebanyak 6,7 triliun (6.700.000.000.000). Hasilnya adalah 22.333,33 rim kertas (6.700.000.000.000 : 300.000.000)

Silahkan bayangkan sebesar apa gudang yang dibutuhkan untuk menampung kertas HVS Folio sebanyak 22.333,33 rim. Cukup sampai disitu ? saya belum puas karena visualisasi yang saya dapatkan belum begitu bisa terlihat nyata dalam bayangan saya.

Saya kemudian berpikir bagaimana seandainya seluruh tumpukan uang yang telah dipacking per-satu-rim itu ditumpuk menjadi satu dan dibentuk menjadi sebuah menara. Terbayang berapa tingginya ? Mudah saja kawan… kita asumsikan 1 rim (500 lembar) memiliki ketebalan sekitar 7 cm (diperkirakan saja). Tinggi menara uang tersebut adalah 156.333,33 cm (22.333,33 x 7 cm). Setelah itu kita konversi ke dalam satuan jarak yang tertinggi yaitu Km.

1 Km = 100.000 Cm (masih ingat pelajaran kelas 4 SD ini dong…?!!!), Artinya :
1 Cm = 1/100.000 Km
156.333,33 cm = 156.333,33 / 100.000 Km, hasilnya adalah :
1,5633 Km (jarak ini adalah jarak dari depan rumah saya menuju ke jalan raya Leuwiliang-Bogor). Artinya kalo uang itu disusun di pinggir jalan, maka uang itu cukup untuk dijadikan trotoar sepanjang kurang lebih 1,5 Km.

Terakhir, ada yang tahu berapa tinggi Monumen Nasional (Monas) yang ada di Jakarta. Menurut sumber dari Wikipedia, tugu peringatan yang diresmikan oleh Ir. Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1961 tersebut hanya memiliki tinggi sekitar 132 m (13.200 cm). Bandingkan dengan menara uang yang telah kita visualisasikan bersama tadi.

Tinggi menara uang : Tinggi Monas
156.333,33 cm : 13.200 cm, semuanya dibagi 13.200, hasil perbandingannya adalah :
11,8434 : 1

Artinya, Uang sebanyak 6,7 triliun yang dari tadi kita perbincangkan, apabila ditumpuk dan dijadikan sebuah menara, tingginya akan mencapai 11 kali dari tinggi Monumen Nasional yang ada di Jakarta. Sungguh visualisasi yang tak pernah saya duga sebelumnya…

Apakah kalian juga mampu melihat visualisasi seperti yang saya lihat dalam bayangan pikiran saya ?

AkbarPembebas

Hudzaifah Ibnu Yaman

“Seteru Kemunafikan, Kawan Keterbukaan”

Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar radhiyallah ‘anhu.

Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai keshalihan dan ketaqwaannya . · ·,begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak… ·

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah

Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain adalah Hudzaifah ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya Tetapi apa yang akan diherankan … ? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar radhiyallah ‘anhu, Hal itu dapat difahami, karena baik di masa keraiaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini . · · ·!

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun dan mengelilinginya….

Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya:”Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah ….!”

Ujar mereka: “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah ”

Ujarnya: “Pintu-rumah para pembesar ….! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan ….!”

Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat mena’jubkan … .! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan …. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan ….

Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabi’at istimewa. antara ciri-cirinya ialah anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun ….

Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya bertambah terang dan cemerlang …, maka sungguh, ia menganutnya itu secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, dan dipandangnya sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina….

Ia terdidik di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kalbu terbuka tak ubah bagai cahaya shubuh, hingga tak suatu pun dari persoalan hidupnya yang tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya …, seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, sebaliknya mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka dua .!

Ia bergaul dengan Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sungguh, tak ada lagi tempat baik di mana bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang sebagai halnya di arena ini, yakni dalam pangkuan Agama Islam, di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di tengah-tengah golongan besar Kaum perintis dari shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam…..

Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan ….hingga ia berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabi’at dan airmuka seseorang. Dalam waktu selintas kilas, ia dapat menebak airmuka dan tanpa susah payah akan mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam ….

Kemampuannya dalam hal ini telah sampai kepada apa yang diinginkannya, hingga Amirul Mu’minin Umar radhiyallah ‘anhu yang dikenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan mengenali mereka.

Sungguh Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu telah dikaruniai fikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya ….

Demikianlah Hudzaifah radhiyallah ‘anhu terus-menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafiq. Berkatalah ia:

“Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.

Pernah kubertanya:”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini…, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan …?“”Ada ..” ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi-kebaikan …?’: tanyaku pula. “M lemang, tetapi kabur dan bahaya …”. “Apa bahaya itu ….?” “Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk  bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah …’: “Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan ….?’: tanyaku pula.

“Masih’: ujar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “yakni para tukang seru di pintu neraka.  Barangsiapa  menyambut seruan  mereka,  akan mereka lemparkan ke dalam neraka…!”

Lalu kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulallah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian .. ..?” Ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Senantiasa mengikuti jama’ah Kaum Muslimin dan pemimpin mereka .. .!”

“Bagaimana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin ….?” “Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian …!”

Nah, tidakkah anda perhatikan ucapannya: “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan , karena takut akan terlibat di dalamnya…!”?

Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu menempuh kehidupan ini dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Dengan demikian ia menganalisa kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang serta meraba situasi

Semua masalah itu diolah dan digodok dalam akal pikirannya lalu dituangkan dalam ungkapan seorang filosof yang ‘arif dan bijaksana.

Berkatalah ia:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membangkitkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka diserunya manusia dari kesesatan kepada kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima mengamalkannyalah, hingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup …., dan dengan kebatilan yang hidup menjadi mati ! Kemudian masa kenabian berlalu, dan datang masa kekhalifahan menurut jejak beliau…., dan setelah itu tiba zaman kerajaan yang durjana. Di antara manusia ada yang menentang, baik dengan hati maupun dengan tangan serta lisannya…. maka merekalah yang benar-benar menerima yang haq ….

Dan di antara mereka ada yang menentang dengan hati dan lisannya tanpa mengikutsertakan tangannya, maka golongan ini telah meninggalkan suatu cabang dari yang haq …. Dan ada pula yang menentang dengan hatinya semata, tanpa mengikutsertakan tangan dan lisannya, maka golongan ini telah meninggalkan dua cabang dari yang haq …. Dan ada pula yang tidak menentang, baik dengan hati maupun dengan tangan serta lisannya, maka golongan ini adalah mayat-mayat bernyawa ….!”

Ia juga berbicara tentang hati, dan mengenai kehidupannya yang beroleh petunjuk dan yang sesat, katanya: “Hati itu ada empat macam:

Hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir ….
Hati yang dua muka, itulah dia hati orang munafiq ….
Hati yang suci bersih, di sana ada pelita yang menyala, itulah dia hati orang yang beriman
Dan hati yang berisi keimanan dan kemunafikan.

Perumpamaan keimanan itu adalah laksana sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedang kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang diairi darah dan nanah. Maka mana di antara keduanya yang lebih kuat, itulah yang menang….!”

Pengalaman Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya:

“Saya datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kataku padanya:

Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka …. Maka ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Kenapa kamu tidak beristighfar Sungguh, saya beristighfar kepada Allah tiap hari seratus Kali…

Nah, inilah dia Hudzaifah radhiyallah ‘anhu musuh kemunafikan dan shahabat keterbukaan … · Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya mendalam. Demikianlah pula halnya Hudzaifah radhiyallah ‘anhu, dalam keimanan dan kecintaannya…. Disaksikannya bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud …, dan di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik… .!

Hudzaifah radhiyallah ‘anhu melihat dari jauh pedang sedang dihunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak: “ayahku … ayahku ….jangan ia ayahku “…. Tetapi qadla Allah telah tiba…… Dan ketika Kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun diliputi suasana duka dan sama-sama membisu. Tetapi sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya: “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang.”

Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya …. Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah radhiyallah ‘anhu (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu ini dan disuruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap dirinya ….

Keimanan dan kecintaan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu tidak kenal lelah dan lemah …. bahkan juga tidak kenal mustahil …. Sewaktu perang Khandaq …,yakni setelah merayapnya kegelisahan  dalam  barisan  kafir  Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan yahudi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud hendak mengetahui perkembangan terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya ….

Ketika itu malam gelap gulita dan menakutkan …,sementara angin topan dan badai meraung dan menderu-deru, seolah-olah hendak mencabut dan menggulingkan gunung-gunung sahara yang berdiri tegak di tempatnya ….Dan suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat di kalangan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam….

Maka siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka…?

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih di antara para shahabatnya, orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini! Dan tahukah anda, siapa kiranya pahlawan yang dipilihnya itu …? Itulah dia Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallah ‘anhu ..!

Ia dipanggil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan tugas, dan dengan patuh dipenuhinya…. Dan sebagai bukti kejujurannya, ketika ia mengisahkan peristiwa tersebut dinyatakannya bahwa ia mau tak mau harus menerimanya ….Hal itu menjadi petunjuk, bahwa sebenarnya ia takut menghadapi tugas yang dipikulkan atas pundaknya serta khawatir akan akibatnya.

Apalagi bila diingat bahwa ia harus melakukannya dalam keadaan lapar dan timpaan hujan es, serta keadaan jasmaniah yang amat lemah, sebagai akibat pengepungan orang-orang musyrik selama satu bulan atau lebih .. .!

Dan sungguh, peristiwa yang dialami oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu malam itu, amat mena’jubkan sekali! Ia telah menempuh jarak yang terbentang di antara kedua perkemahan dan berhasil menembus kepungan …, lalu secara diam-diam menyelinap ke perkemahan musuh …. Ketika itu angin kencang telah memadamkan alat-alat penerangan pihak lawan hingga mereka berada dalam gelap gulita, sementara Hudzaifah radhiyallah ‘anhu telah mengambil tempat di tengah-tengah prajurit musuh itu…

Abu Sufyan, yakni panglima besar Quraisy, takut kalau-kalau kegelapan malam itu dimanfaatkan oleh mata-mata Kaum Muslimin untuk menyusup ke perkemahan mereka. Maka ia pun berdirilah untuk memperingatkan anak buahnya…. Seruan yang diucapkan dengan keras kedengaran oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu dan bunyinya sebagai berikut:

“Hai segenap golongan Quraisy, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan kawan duduknya dan memegang tangan serta mengetahui siapa namanya·!”

Kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu: “Maka segeralah saya menjabat tangan laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya: “Siapa kamu ini …?” Ujarnya: “Si Anu anak si Anu …”

Demikianlah Hudzaifah radhiyallah ‘anhu mengamankan kehadirannya di kalangan tentara musuh itu hingga selamat.

Abu Sufyan mengulangi lagi seruan kepada tentaranya, katanya:  “Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi …. Kuda-kuda kita telah binasa…,demikian juga halnya unta. Bani Quraidhah telah pula mengkhianati kita hingga kita mengalami akibat yang tidak kita inginkan. Dan sebagaimana kalian saksikan sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai: periuk-periuk berpelantingan, api menjadi padam dan kemah-kemah berantakan Maka berangkatlah kalian sayapun akan berangkat”
Lalu ia naik ke punggung untanya dan mulai berangkat, diikuti dari belakang oleh tentaranya.

Kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu: “Kalau tidaklah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya lebih dulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah ….”

Hudzaifah radhiyallah ‘anhu kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan keadaan musuh, serta menyampaikan berita gembira itu ….

Barangsiapa yang pernah bertemu muka dengan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu, dan merenungkan buah fikiran dan hasil filsafatnya serta ketekunannya untuk mencapai ma’rifat, tak mungkin akan mengharapkan daripadanya sesuatu kepahlawanan di medan perang at;au pertempuran ….

Tetapi anehnya dalam bidang ini pun Hudzaifah radhiyallah ‘anhu melenyapkan segala dugaan itu ….

Laki-laki santri yang teguh beribadat dan pemikir ini, akan menunjukkan kepahlawanan yang luar biasa di kala ia menggenggam pedang menghadapi tentara berhala dan pembela kesesatan ….

Cukuplah sebagai bukti bahwa ia merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting pada pembebasan seluruh wilayah Irak… .! Kota-k·ota Hamdan, Rai dan Dainawar, selesai pembebasannya di bawah komando Hudzaifah radhiyallah ‘anhu ….

Dan dalam pertempuran besar Nahawand, di mana orang-orang Persi berhasil menghimpun 150 ribu tentara.., Amirul Mu’minin Umar memilih sebagai panglima Islam Nu’man bin Muqarrin, sedang kepada Hudzaifah radhiyallah ‘anhu dikirimnya surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan dari tentara Kufah ….

Kepada para pejuang itu Umar mengirimkan surat, katanya:”Jika Kaum Muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar ialah Nu’man bin Muqarrin …!

Dan seandainya Nu’man tewas, maka panji-panji komando hendaklah dipegang oleh Hudzaifah radhiyallah ‘anhu …, dan kalau ia tewas pula maka oleh Jarir bin Abdillah …!”

Amirul Mu’minin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujub orang banyaknya yang akan memegang pimpinan tentara secara berurutan.

Dan kedua pasukan pun berhadapanlah ….Pasukan Persi dengan 150 ribu tentara, sedang Kaum Muslimin dengan 30 ribu orang pejuang, tidak lebih ….Perang berkobar, suatu pertempuran yang tak ada tolak bandingnya, perang terdahsyat dan paling sengit dikenal oleh sejarah …!

Panglima besar Kaum Muslimin gugur sebagai syahid Nu’man bin Muqarrin tewaslah sudah ….. Tetapi sebelum bendera Kaum Muslimin menyentuh tanah, panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin kemenangan pun meniup dan menggiring tentara maju ke muka dengan semangat penuh dan keberanian luar biasa…. Dan panglima  yang  baru  itu  tiada  lain  adalah Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallah ‘anhu Bendera segera disambutnya, dan dipesankannya agar k:ematian Nu’man tidak disiarkan, sebelum peperangan berketentuan. Lalu dipanggilnya Na’im bin Muqarrin dan ditempatkan pada kedudukan saudaranya Nu’man, sebagai penghormatan kepadanya …. Dan semua itu dilaksanakannya dengan kecekatan, bertindak dalam waktu hanya beberapa saat, sedang roda peperangan berputar cepat, kemudian bagai angin puting beliung ia maju menerjang barisan Persi sambil menyerukan:

“Allahu Akbar, Ia telah menepati janji-Nya. Allah Akbar, telah dibela-Nya tentara-Nya” Lalu diputarlah kekang kudanya ke arab anak buahnya, dan berseru: “Hai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siap sedia menyambut kedatangan tuan-tuan …, jangan biarkan ia menunggu lebih lama ….! Ayuhlah wahai pahlawan-pahlawan Badar….! Majulah pejuang-pejuang Uhud, Khandaq dan Tabuk….!”

Dengan ucapan-ucapannya itu Hudzaifah radhiyallah ‘anhu telah memelihara semangat tempur dan ketahanan anak buahnya, jika tak dapat dikatakan telah menambah dan melipatgandakannya ….

Dan kesudahannya perang berakhir dengan kekalahan pahit bagi orang-orang Persi, suatu kekalahan yang jarang ditemukan bandingannya

Dialah seorang pahlawan di bidang hikmat, ketika sedang tenggelam dalam renungan …. Seorang pahlawan di medan juang, ketika berada di medan laga …. Pendeknya ia seorang tokoh, dalam urusan apa juga yang dipikulkan atas pundaknya, dalam setiap persoalan yang membutuhkan pertimbangannya.

Maka tatkala Kaum Muslimin di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhu hendak pindah dari Madain ke Kufah dan bermukim di sana, yakni setelah keadaan iklim kota Madain membawa akibat buruk terhadap Kaum Muslimin dari golongan Arab, menyebabkan Umar menitahkan Sa’ad segera meninggalkan kota itu setelah menyelidiki suatu daerah yang paling cocok sebagai tempat pemukiman Kaum Muslimin …, maka siapakah dia yang diserahi tugas untuk memilih tempat dan daerah tersebut …. ? Itulah dia Hudzaifah ibnul Yaman ibnul Yaman radhiyallah ‘anhu, yang pergi bersama Salman bin Ziad guna menyelidiki lokasi yang tepat bagi pemukiman baru itu …. Tatkala mereka sampai di Kufah, yang ternyata merupakan tanah kosong yang berpasir dan berbatu-batu, pernafasan Hudzaifah radhiyallah ‘anhu menghirup udara segar, maka ia berkata kepada shahabatnya: “Di sinilah tempat pemukiman itu insya Allah”

Demikianlah diatur rencana pembangunan kota Kufah, yang oleh ahli bangunan diwujudkan menjadi sebuah kota yang permai …. Dan baru saja Kaum Muslimin pindah ke sana, maka yang sakit segera sembuh, yang lemah menjadi kuat, dan urat-urat mereka berdenyutan menyebarkan arus kesehatan ….!

Sungguh, Hudzaifah adalah seorang yang berfikiran cerdas dan berpengalaman luas, kepada Kaum Muslimin selalu dipesankannya: “Tidaklah termasuk yang terbaik di antara kalian yang meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat, dan tidak pula yang meninggalkan akhirat untuk kepentingan dunia …. tetapi hanyalah yang mengambil bagian dari kedua-duanya.. .!”

Pada suatu hari di antara hari-hari yang datang silih berganti dalam tahun 36 Hijriah, Hudzaifah radhiyallah ‘anhu mendapat panggilan menghadap Ilahi …. Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang shahabatnya. Maka ditanyakannya kepada mereka : “Apakah tuan-tuan membawa kain kafan …?”

“Ada”, ujar mereka.
“Coba lihat”, kata Hudzaifah radhiyallah ‘anhu pula.

Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah pada kedua bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lain katanya: “Kain kafan ini tidak cocok bagiku …!

Cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju  .. .!

Tidak lama aku akan berada dalam kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau dengan yang lebih jelek …!

Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat dan sewaktu didengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka, kedengaranlah ucapannya:

” Selamat datang, wahai maut… Kekasih tiba di waktu rindu …..Hati bahagia tak ada keluh atau sesalku.

Ketika itu naiklah membubung ke hadlirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti.

(berbagai sumber)

Zaid bin Haritsah

“Tak ada yang lebih dicintainya kecuali Allah SWT dan Rasulullah SAW”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melepas balatentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah, melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:

“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan liambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Ja’far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Ra wahah “.

Siapakah Zaid bin Haritsah itu? Bagaimanakah orangnya? Siapakah pribadi yang bergelar “Pencinta Rasulullah ltu”‘

Tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat. Tetapi sejarah hidupnya hebat dan besar.

Sudah lama sekali Su’da isteri Haritsah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak shabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya ialah ayah Zaid, mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. Di waktu ia akan menitipkan isteri  dan  anaknya  kepada  rombongan  kafilah  yang  akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, disertai perasaan aneh, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya ….

Demikianiah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa.

Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah.
Setelah beberapa lama Su’da berdiam bersama kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an,.hingga di suatu hari, desa itu dikejutkan oleh serangan gerombolan perampok badui yang menggerayangi desa tersebut.

Mampung itu habis porak poranda, karena tak dapat mempertahankan diri. Semua milik yang berharga dikuras habis dan penduduk yang tertawan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri.

Demi Haritsah mengetahui kejadian tersebut, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya ia berjalan mencari anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia bertanya pada kabilah yang lewat, kalau-kalau ada yang tahu tentang anaknya tersayang dan buah hatinya  “Zaid”

Tetapi usaha itu tidak berhasil. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru:

“Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi,
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati.
Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya.
Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa.
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya.
BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma.
Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula,
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku jadi merana”

Perbudakan sudah berabad-abad dianggap sebagai suatu keharusan yang dituntut oleh kondisi masyarakat pada zaman itu. Begitu terjadi di Athena Yunani, begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero dunia, dan tidak terkecuali di jazirah Arab sendiri.

Syahdan di kala kabilah perampok yang menyerang desa Bani Ma’an berhasil dengan rampokannya, mereka pergi menjualkan barang-barang dan tawanan hasil rampokannya ke pasar ‘Ukadz yang sedang berlangsung waktu itu. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam dan pada kemudian harinya ia memberikannya kepada mak ciknya Siti Khadijah. Pada waktu itu Khadijah radliyallahu ‘anha telah menjadi isteri Muhammad bin abdillah (sebelum diangkat menjadi Rasul dengan turunnya wahyu yang pertama).Sementara pribadinya yang agung, telah memperlihatkan segala sifat-sifat kebesaran yang istimewa, yang dipersiapkan Allah untuk kelak dapat diangkat-Nya sebagai Rasul-Nya.

Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Rasulullah. Beliau menerimanya dengan segala senang hati, lalu segera memerdekakannya. Dari pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anak sendiri.

Pada salah satu musim haji, sekelompok orang-orang dari desa Haritsah berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bundanya kepadanya. Zaid balik menyampaikan pesan salam serta rindu dan hormatnya kepada kedua;orang tuanya. Katanya: kepada para hujjaj atau jamaah haji itu, tolong beritakan kepada kedua orang tuaku, bahwa aku di sini tingal bersama seorang ayah yang paling mulia.

Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah, bersama seorang saudaranya. Di Mekah keduanya langsung menanyakan di mana rumah Muhammad al-Amin (Terpercaya). Setelah berhadapan muka dengan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Haritsah berkata: “Wahai Ibnu Abdil Mutthalib …, wahai putera dari pemimpin kaumnya!

Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan ….

Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan’anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”

Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi dalam pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya. Maka kata Nabi kepada Haritsah: “Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih anda,maka akan saya kembalikan kepada anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”

Mendengar ucapari Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, karena tak disangkanya sama sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya:  “Benar-benar anda telah menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”

Kemudian Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung bertanya: “Tahukah engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu”, jawab Zaid, “Yang ini ayahku sedang yang seorang lagi adalah pamanku”.

Kemudian Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.

Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: “Tak ada orang pilihanku kecuali anda! Andalah ayah, dan andalah pamanku!”

Mendengar itu, kedua mata Rasul basah dengan gir mata, karena rasa syukur dan haru. Lain dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lain serunya:

“Saksikan oleh halian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku … yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya’:

Mendengar itu hati Haritsah seakan-akan berada di awang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan “Ash-Shadiqul Amin”, — Orang lurus Terpercaya –, keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.

Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan anaknya pada seorang pemimpin kota Mekah dalam keadaan aman sentausa, yakni sesudah sekian lama tidak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.

Rasulullah telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat…,
maka menjadi terkenallah ia di seluruh Mekah dengan nama “Zaid bin Muhammad” ….

Di suatu hari yang cerah seruan wahyu yang pertama datang kepada sayidina Muhammad:
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang telah menciptakan ! la telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena).
Mengajari manusia apa-apa yang tidah diketahuinya. (Q.S. 96 al-‘Alaq; 1 — 5)

Kemudian susul-menyusul datang wahyu kepada Rasul dengan kalimatnya:
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (siaphan diri), sampaikan peringatan (ajaran Tuhan). Dan agungkan Tuhanmu. (Q.S. 74 al-Muddattsir: 1 – 3)

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.’ Dan jika tidah kamu laksanakan, berarti kamu telah menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah akan melindungimu dari (kejahatan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (Q.S. 5 al-Maidah: 67)

Maka tak lama setelah Rasul memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu itu, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam …,bahkan ada yang mengatakan sebagai orang yang pertama.

Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu  memang  pantas dan wajar, disebabkan kejujurannya yang tak  ada  tandingannya,  kebesaran  jiwanya,  kelembutan  dan kesucian hatinya,  disertai terpelihara lidah  dan tangannya.

Semuanya itu atau yang lebih dari itu menyebahkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan shahabat-shahabat Rasul kepadanya. Berkatalah Saiyidah Aisyah radhiyallah ‘anha .: “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah!”

Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  Siapakah sebenamya Zaid ini?
Ia sebagai yang pernah kita katakan, adalah seorang anak yang pernah ditawan, diperjual-belikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya. Ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek, berkulit coklat kemerahan, hidung pesek; tapi ia adalah manusia yang berhati mantap dan teguh serta berjiwa merdeka.

Dan karena itulah ia mendapat tempat tertinggi di dalam Islam dan di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Islam dan Rasulnya tidak sedikit juga mementingkan tuah kebangsawanan dan turunan darah, dan tidak pula menilai orang dengan predikat-predikat lahiriahnya. Maka di dalam keluasan faham Agama besar inilah cemerlangnya nama-nama seperti Bilal, Shuhaib, ‘Ammar, Khabbab, Usamah dan Zaid. Mereka semua punya kedudukan yang gemilang, baik sebagai orang-orang shaleh maupun sebagai pahlawan perang.

Dengan tandas Islam telah mengumandangkan dalam kitab sucinya al-Quranul Karim tentang nilai-nilai hidup:

“Sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah, ialah yang paling taqwa!”  (Q.S. 49 al-Hujurat: 13)

Islamlah Agama yang membukakan segala pintu dan jalan untuk mengembangkan berbagai bakat yang balk dan cara hidup yang suci, jujur dan direstui Allah ….

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Zaid dengan Zainab anak makciknya. Ternyata kemudian kesediaan Zainab memasuki tangga perkawinan dengan Zaid, hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafa’at Rasulullah, dan karena tak sampai hati  menyatakan  enggan  terhadap  Zaid sendiri. Kehidupan rumah tangga dan perkawinan mereka yang tak dapat bertahan lama, karena tiadanya tali pengikat yaitu cinta yang ikhlas karena Allah dari Zainab, sehingga berakhir dengan perceraian. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid yang telah pecah itu. Pertama merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan isteri baru bagi Zaid dengan mengawinkannya dengan Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah.

Disebabkan peristiwa tersebut di atas terjadi kegoncangan dalam masyarakat kota Madinah. Meueka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya?

Tantangan dan kecaman ini dijawab Allah dengan wahyu-Nya, yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau annak adaptasi dengan anak sebenamya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:

Muhammad bukanlah bapah dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabipenutup. (Q.S. al-Ahzab: 40)

Dengan demikian kembali Zaid dipanggil dengan namanya semula “Zaid bin Haritsah”

Dan sekarang ….
Tahukah anda bahwa kekuatan Islam yang pernah maju medan perang “Al-Jumuh” komandannya adalah Zaid bin Haritsah? Dan kekuatan-kekuatan lasykar Islam yang bergerak maju ke medan pertempuran at-Tharaf, al-‘Ish, al-Hismi dan lainnya, panglima pasukannya, adalah Zaid bin Haritsah juga?

Begitulah sebagaimana yang pernah kita dengar dari Ummil Mu’minin ‘Aisyah radhiyallah ‘anha tadi: “Setiap Nabi mengirimkan Zaid dalam suatu pasukan, pasti ia yang diangkat jadi pemimpinnya'”

Akhirnya datanglah perang Muktah yang terkenal itu ….
Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua bangka, secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan dan wujud mereka.

Terutama di daerah jajahan mereka Syam (Syria) yang berbatasan dengan negara dari Agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukkan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.

Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tujuan terakhir mereka yang hendak menumpas kekuatan Islam dapat tercium oleh Nabi. Sebagai seorang ahli strategi, Nabi memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak daripada diserang di daerah sendiri, dan menyadarkan mereka akan keampuhan perlawanan Islam.

Demikianlah, pada bulan Jumadil Ula, tahun yang kedelapan Hijrah tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam.

Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedang lasykar Islam mengambil posisi di dekat suatu negeri kecil yang bernama Muktah, yang jadi nama pertempuran ini sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui benar arti penting dan bahayanya peperangan ini. Oleh sebab itu beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertaqarrub mendekatkan diri kepada Ilahi, sedang di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela Agama. ?Tiga orang pahlawan yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, mereka yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah. Mengharap semata-mata ridla ilahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak ….

Mereka yang bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja’far bin Abi Thalib dan ketiga ‘Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah ridla kepada mereka dan menjadikan mereka ridla kepada-Nya, serta Allah meridlai pula seluruh shahabat-shahabat yang lain ….

Begitulah apa yang kita saksikan di permulaan ceritera ini, sewaktu berangkat Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat: “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Haritsah sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan seandainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh ‘Abdullah bin Rawahah!”

Sekalipun Ja’far bin Abi Thalib adalah orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri …. Sekalipun keberanian ketangkasannya tak diragukan lagi, kebangsawanan dan turunannya begitu pula, namun ia hanya sebagai orang kedua sesudah Zaid, sebagai panglima pengganti, sedangkan Zaid beliau angkat sebagai panglima pertama pasukan.

Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Bahwa Islam sebagai suatu Agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang bathil dan rasialisme, menggantinya dengan bubungan baru yang dipimpin oleh hidayah ilahi yang berpokok kepada hakekat kemanusiaan ….

Dan seolah-olah Rasul telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuran yang akan berlangsung, beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu Ja’far, kemudian Ibnu Abi Rawahah. Ternyata ketiga mereka menemui Tuhannya sebagai syuhada sesuai dengan urutan itu pula!

Demi Kaum Muslimin melihat tentara Romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duga sama sekali, mereka terkejut.

Tetapi kapankah pertempuran yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?
Ketika itulah …, di sana, mereka maju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh …. Di depan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maju menyerbu laksana topan, di celah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan di sisi Allah, karena sesuai dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah telak membeli jiwa dan harta orang-orang Mu inin dengan surga sebagai imbalannya. (Q.S. 9 at-Taubah: 111)

Zaid tak sempat melihat pasir Balqa’, bahkan tidak pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenangannya.

Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menebas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyalah membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya ke kampung kedamaian, surga yang kekal di sisi Allah ….

Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir.
Rohnya yang melayang dalam perjaianannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.

Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum Jatuh ke tanah….

(berbagai sumber)

Revolusi Sebuah Keharusan Sejarah ?

Saat ini, ditangan saya ada sebuah buku, judulnya Revolusi sebuah keharusan sejarah. Buku ini ditulis oleh Prof. Sarbini Sumawinata, saya gak tahu kenapa buku ini disimpan di rak paling pojok di perpustakaan kampus saya, apakah mungkin petugas perpustakaannya ingin menyembunyikan buku ini agar sampai tidak dibaca oleh para Mahasiswa, atau memang karena buku ini tergolong buku lama sehingga gak ada mahasiswa yang mau membacanya. Dan, waktu saya pinjem buku ini pun penjaga perpustakaannya sempet bilang ke saya, “anak Kiri ya mas..?” sontak saya semakin penasaran untuk membaca buku ini.

Sekilas, buku ini menceritakan tentang elite politik baik dikalangan eksekutif maupun legislatif yang semuanya telah gagal dalam menyelesaikan persoalan bangsa sehingga kekecewaan dan kemarahan rakyat semakin meningkat tak terkendali. Dalam buku itu dijelaskan bahwa kekecewaan dan kemarahan rakyat terhadap kekuasaan para elit politk, dapat menjelma menjadi sebuah Gempa Tektonik yang dapat mengguncang serta mampu menghancurkan bangunan berbangsa dan bernegara secara total. Kekecewaan dan kemarahan rakyat saat ini yang mengerucut pada sebuah kondisi bangsa dengan magma yang terus bergerak hingga menembus kerak bumi. Magma ini lambat laun akan semakin kuat, sehingga ketika tekanannya mencapai puncak dan tak dapat dibendung lagi… maka terjadilah GEMPA TEKTONIK. Begitulah kondisi masyarakat saat ini, mereka telah terlalau lama dicekoki kepalsuan-kepalsuan kuasa tiran yang dengan wajah bak malaikat, mereka terus mengorbankan rakyat untuk kepentingan mereka sendiri.

Setidaknya, ada 7 permasalahan yang dibahas dalam buku tersebut, sebuah permasalahan yang sebetulnya klasik dan terus berulang pada masa itu. Permasalahan itu diantaranya, permasalahan Peradilan dan Penegakkan hukum, Keuangan dan Moneter, Kapitalisasi perusahaan-perusahaan besar, BUMN dan konglomerat, konflik horizontal dan masalah disintegrasi, kedudukan dan posisi ABRI (TNI/POLRI), dan kekuatan Soeharto yang masih kuat. Namun, sayang buku itu tidak membahas secara detail ketujuh permasalahan ini, sehingga saya tidak bisa memahami bagaimana pemikiran penulis tentang 7 permsalahan bangsa yang menurut dia senantiasa menghantui perkembangan bangsa Indonesia. Tapi yang jelas, penulis menyebutkan bahwa 7 permasalahan diatas seolah tidak disentuh oleh para elit politik. Elit politik lebih mengutamakan kepentingan pribadi, golongan, kelompok dan sangat jauh dari kepentingan rakyat.

Masalah-masalah yang tidak kunjung dibenahi ini, akan menimbulkan reaksi resistensi dari masyarakat. Reaksi resistensi inilah yang kemudian menimbulkan gejolak gempa tektonik politik. Jika hal ini terakumulasi secara serius. Maka, Revolusi merupakan sebuah keharusan sejarah yang akan terus berulang setiap saat.

Hanya saja, pertanyaan saya setelah membaca buku ini, Mengapa Revolusi harus berulang setiap rezim, mulai dari rezim orde baru, orde lama, hingga orde reformasi…? Setelah merenung dan berpikir saya menemukan jawabannya, Jawabannya karena Revolusi yang dilakukan masyarakat merupakan Revolusi Semu. Semangat mereka hanya terakumulasi untuk mengganti dan menumbangkan para elit politik yang dinilai tidak pro terhadap kepentingan rakyat. Tapi, mereka tidak pernah mempedulikan sistem seperti apa yang mampu menjamin kesejahteraan hidup rakyat. Hal ini kemudian akan menjadi suatu hal yang sia-sia, kita tentu ingat tragedi tahun 1998 dimana mahasiswa menduduki gedung MPR-DPR untuk memaksa agar Soeharto turun dari jabatan Presiden, karena rakyat (yang dalam hal ini dipelopori oleh Mahasiswa) menilai bahwa Soeharto telah gagal dalam memimpin Indonesia, tapi nyatanya apa..? Walaupun rezim Soeharto telah tumbang, toh penindasan dan penderitaan tetap harus diterima oleh rakyat Indonesia.

Hal ini karena perubahan total (Revolusi) yang dilakukan masyarakat bukanlah Revolusi Sistemik, melainkan hanya Revolusi Birokrasi yang menyentuh hanya pada tingkatan mengganti orang-orang tertentu di kursi pemerintahan yang dinilai tidak pro terhadap rakyat. Kini, saatnya tiba untuk mengumandangkan seruan Perubahan Total, Revolusi Sistemik untuk yang terakhir kalinya, sehingga Revolusi tak perlu lagi menjadi sebuah keharusan sejarah yang terus berulang di setiap generasi. Cukup dengan sebuah gerakan untuk merubah total tatanan masyarakat ini dengan ISLAM. Dan, cukup satu kali Revolusi Sistemik untuk mengganti orang-orang yang tidak pro terhadap rakyat lengkap dengan sistem yang menindas rakyat ini.

Hanya dengan Islam, perubahan total yang sesungguhnya dapat diraih oleh rakyat…

Bogor, 24 Januari 2009

AkbarPembebas